RoutesPlannerFeaturesUpdates
App
Login or Signup
Get the App
Login or Signup
Rivaldy paris experienced this adventure with komoot!

Have your own adventure with the #1 outdoor app today.

Sign up or log in
Rivaldy paris
Completed activities

Solo ride to Malino via poros Sapaya

Rivaldy paris
Completed activities

Solo ride to Malino via poros Sapaya

went for a bike ride

October 10, 2026 at 22:38

Solo ride to Malino via poros Sapaya

09:40

127km

13.2km/h

44.9km/h

2,520m

2,520m

Semua bermula dari cerita Omlole tentang rute Malino-Sapaya. Terbayanglah hamparan sawah terasering hijau yang memanjakan mata, deburan air terjun kecil di pinggir jalan, serta hembusan udara sejuk yang perlahan memeluk tubuh pokoknya kayak dunia fan tasi lah, rute ini sebenarnya sudah di planning jauh hari gowes bareng, tapi karena beliau sibuk dengan rutenya sendiri, berangkat lah saya seorang diri. Tapi hari itu, saya memilih arah sebaliknya, melintasi poros Sapaya menuju Malino. Dan ternyata, alam punya caranya sendiri untuk bercerita.

Bukannya udara sejuk yang menyambut, melainkan samar-samar kepulan asap yang menyelimuti langit hingga lereng-lereng bukit. Sungguh di luar dugaan api yang membakar hutan-hutan di Kalimantan sana, ternyata mengirimkan perih dan samar asapnya hingga jauh melintasi laut ke tanah Sulawesi ini.

Sawah terasering yang katanya hijau kini berganti warna, menjadi hamparan cokelat yang meranggas dipeluk kemarau panjang. Air terjun kecil yang digadang-gadang menyegarkan pun membisu, hanya menyisakan jejak aliran di atas bebatuan dan lumut yang mengering. Saat melintasi Jembatan Merah Tinggimoncong, Sungai Jeneberang di bawah sana tampak kian menyusut, hanya meninggalkan alirannya yang semakin dangkal dan menyempit. Beruntung, di sela-sela lereng gunung, masih ada sedikit mata air yang mengalir melalui potongan bambu tempat yang cukup untuk sekadar membasuh wajah dan mendinginkan kepala yang mulai memanas di bawah terik matahari.

Belum sempat mencerna lanskap yang bertolak belakang dari apa yang dibayangkan itu, rute sudah lebih dulu menagih ketahanan fisik. Kaki berhadapan langsung dengan tanjakan tanjakan yang tidak ngotak. Menyelesaikan angka 127 km dengan akumulasi elevasi 2.500an meter memakan waktu hingga 10 jam di atas sepeda. Sebuah ujian yang cukup sukses membuat saya berkali-kali minta maaf pada diri sendiri yang ternyata masih selemah ini.

Perjalanan yang berangkat membawa ekspektasi tentang rute yang teduh dan menyegarkan, namun pulang membawa bentang cerita tentang alam yang perlahan berubah. Pada akhirnya, gowes hari itu bukan lagi sekadar perkara menaklukkan tanjakan atau menikmati perjalanan, melainkan tentang keberanian untuk menyaksikan langsung bagaimana rupa bumi kita saat ini, meninggalkan jejak perubahan yang tak lagi bisa kita abaikan

5 people liked this tour.

5ShareEmbedComments
NavigateSend to PhoneSave

Waypoints

Bagged Peaks

Route Details

Elevation

Nothing selected – click and drag below to see the stats for a specific part of the route.

Highest point (1,070 m)

Lowest point (50 m)

Sign up to see more specific route details

Sign up for free

Comments

guide_signup

Want to know more?

Sign up for a free komoot account to join the conversation.

Sign up for free
Loading
Explore
RoutesRoute plannerFeaturesRedeem a voucherHikesMTB TrailsRoad cycling routesBikepackingSitemap
Download the app
Follow Us on Socials

© komoot GmbH

Privacy Policy